h:i a - l d F Y

Wajibnya menghadiri undangan walimah serta Adab-adab yang diundang

By perdana - Wed Oct 30, 4:23 pm

undangan walimah serta Adab-adab yang diundangMenghadiri undangan walimah merupakan suatu kewajiban bagi setiap Muslim. Dan janganlah ia meninggalkannya, sebagaimana telah jelas dari hadits Abu Hurairah Radhiallohu’anhu yang telah lalu.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallohu’anhuma, Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam bersabda:

(( إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى وَلِيمَةِ عُرْسٍ فَلْيُجِبْ ))

“Jika salah seorang dari kalian diundang ke resepsi pernikahan, maka hendaklah ia datang memenuhinya.” (HR. Muslim)

 Apakah Orang yang Puasa

Boleh Menghadiri Undangan Walimah?

Tidak ada perbedaan antara orang yang berpuasa atau tidak, tentang wajibnya menghadiri undangan walimah. Akan tetapi diperbolehkan bagi orang yang sedang berpuasa untuk menghadirinya saja tanpa menyantap hidangan yang disediakan. Namun tetap dianjurkan agar mendoakan orang yang mengundangnya.

Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah Radhiallohu’anhu, ia berkata bahwa Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam bersabda:

(( إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ، وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ ))

“Jika salah seorang dari kalian diundang, maka hendaklah ia menghadirinya. Jika ia sedang puasa, maka hendaklah ia berdoa untuk tuan rumah, jika ia tidak puasa, maka hendaklah ia makan.” (HR. Muslim)

Dan jika mau, ia pun diperbolehkan untuk memakannya dan membatalkan puasanya.

Dasarnya adalah hadits dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiallohu’anhuma, ia berkata bahwa Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam  bersabda:

(( إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ، وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ ))

“Apabila salah seorang dari kalian diundang makan, maka hendaklah ia menghadirinuya. Jika menghendaki ia diperbolehkan makan dan jika tidak menghendaki, maka iapun diperbolehkan untuk tidak makan.” (HR. Muslim)

Tidak Boleh Menghadiri Undangan Walimah

jika Terdapat Kemaksiatan

Dasarnya adalah hadits ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallohu’anhu, bahwa ia memasak makanan dan mengundang Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam, maka beliau datang dan beliau melihat pada rumah tersebut ada tirai yang terdapat padanya gambar (makhluk bernyawa), lalu beliau kembali pulang. Maka ia berkata: “Ya Rosululloh, ayah dan ibuku jadi tebusanmu, apa yang menyebabkanmu kembali lagi?”

Maka Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam bersabda:

(( إِنَّ فِيْ البَيْتِ سِتْرًا فِيْهِ تَصَاوِيْرُ، وَإِنَّ المَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ تَصَاوِيْرُ ))

“Sesungguhnya di rumah itu terdapat tirai yang bergambar dan sungguh para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar.” (HR. Abu Ya’la)

Imam al-Bukhari Rahimahulloh menulis bab khusus dalam kitab Shahīhnya:

Bab: (Bolehkah seorang kembali pulang jika ia melihat kemungkaran pada undangan itu? Ibnu Mas’ud Radhiallohu’anhu melihat gambar pada sebuah rumah, maka ia pun kembali pulang. Ibnu ‘Umar Radhiallohu’anhu mengundang Abu Ayyub al-Anshari Radhiallohu’anhu, ia melihat tirai yang menutupi dinding, Ibnu ‘Umar mengatakan: “Sesungguhnya kami dipaksa oleh kaum wanita.”. Abu Ayyub Radhiallohu’anhuv berkata: “Siapakah yang aku harus takut kepadanya? Dan aku tidaklah takut pada-mu. Demi Alloh, aku tidak akan menyantap makanan kalian.” Maka ia pun kembali).

Dan disebutkan dalam hal ini hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiallohu’anha, bahwa ‘Aisyah Radhiallohu’anha membeli bantal yang terdapat padanya gambar-gambar.

Ketika Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam melihatnya, beliau berdiri saja di depan pintu dan tidak masuk. ‘Aisyah Radhiallohu’anha melihat tanda ketidaksukaan pada wajah beliau, lalu berkata: “Aku bertaubat kepada Alloh dan kepada Rosul-Nya. Apa kesalahanku?.” Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam bersabda: “Untuk bantal-bantal ini?”

Maka aku berkata: “Aku membelinya agar engkau dapat duduk di atasnya dan bersandar padanya.”. Maka Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam bersabda:

(( إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ: أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ. وَقَالَ: إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لاَ تَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ ))

“Sesungguhnya pelukis gambar-gambar ini akan diadzab pada hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan itu! Sesungguhnya rumah yang terdapat gambar-gambar tidak akan dimasuki para malaikat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 Mendoakan Pihak yang Mengundang pada Acara Walimah

Bagi yang diundang dianjurkan untuk memohonkan ampunan bagi pihak yang mengundang, dan dianjurkan mendoakan dengan doa-doa yang disunnahkan, seperti:

(( اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ، وَارْحَمْهُمْ ))

“Ya Alloh berkahilah mereka pada rezeki yang telah Engkau berikan pada mereka dan ampunilah mereka serta rahmatilah mereka.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Sarjas Radhiallohu’anhu, ia berkata:

“Aku mendatangi Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam dan menyantap hi-dangan beliau lalu aku berdoa: Semoga Alloh mengampunimu wahai Rosululloh.”. Maka Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam menjawab: “Dan semoga ia mengampunimu juga.”  (HR. Muslim)

Diriwayatkan juga dari ‘Abdullah bin Busr Radhiallohu’anhu, ia berkata:

Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam datang bertamu ke rumah ayahku, dan aku menghidangkan kepada beliau makanan dan kurma yang segar, maka beliau menyantapnya. Kemudian di-hidangkan kepada beliau kurma lain dan beliau memakannya. Beliau mengeluarkan biji kurma di antara dua jari beliau, dengan merapatkan jari telunjuk dan jari tengah. Kemudian dihidangkan kepada beliau minuman dan beliau meminumnya, kemudian beliau  memberikannya kepada orang yang ada di kanannya. Ayahku berkata (pada saat itu ia memegang tali kekang kendaraan Rosululloh): “Berdoalah kepada Alloh untuk kami”. Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam bersabda:

(( اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ، وَارْحَمْهُمْ ))

“Ya Alloh berkahilah mereka pada rezeki yang telah Engkau berikan pada mereka dan ampunilah mereka serta rahmatilah mereka.” (HR. Muslim)

Bahkan dianjurkan juga bagi para undangan agar mengucapkan terima kasih kepada pihak pengundang.

Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah Radhiallohu’anhu, ia berkata bahwa Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam bersabda:

(( لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ ))

“Tidak bersyukur kepada Alloh, orang yang tidak mampu berterima kasih kepada manusia (orang lain).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)

Mendoakan Pengantin dan Keluarganya

Dengan Keberkahan dan Kebaikan

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiallohu’anha, yang di dalamnya disebutkan perkataan kaum wanita padanya: “Semoga tetap ber-ada pada kebaikan dan keberkahan dan semoga senantiasa baik-baik saja.”

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiallohu’anhu, ia berkata: “Bahwa jika Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam mengucapkan selamat atas pernikahan seseorang, beliau berdoa:

(( بَارَكَ اللهُ لَكَ، وَبَارَكَ اللهُ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا بِخَيْرٍ ))

Semoga Alloh memberkahimu, dan semoga Alloh memberikan berkah atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Sa’id bin Manshur)

Telah disebutkan pada hadits Anas Radhiallohu’anhu, bahwa Rosululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam berkata kepada ‘Abdur Rahman bin Auf Radhiallohu’anhu: “Semoga Alloh memberkahimu”.

Wallohua’lam

Follow Dai Nusantara on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS

Leave a Reply

Bahaya sihir dan perdukunan

Tentang Dakwah

Sahabat, Mungkin suka juga yang ini:close
%d bloggers like this: